-->

Notification

×

Iklan

Profil

Profil

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BRIN Perkuat Kapabilitas Teknologi Nasional, dari Energi hingga Antariksa

Saturday, August 8, 2026 | August 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-09T04:49:04Z

 


Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya untuk memperkuat kapabilitas teknologi nasional di berbagai sektor strategis. Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa pembangunan riset Indonesia tidak semata-mata diarahkan untuk memperbanyak produk penelitian, tetapi untuk menciptakan kemampuan teknologi nasional yang kuat dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Arif Satria saat memaparkan laporan implementasi sekaligus menunjukkan hasil riset dan inovasi BRIN dalam pertemuan bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Kamis (6/8/2026). Menurutnya, Indonesia perlu membangun kemandirian teknologi yang mampu menjawab berbagai kebutuhan nasional, mulai dari pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Untuk mendukung penguatan kapabilitas tersebut, BRIN terus mengembangkan ekosistem infrastruktur riset yang memadai dan memiliki pengakuan internasional. Infrastruktur tersebut mencakup fasilitas reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, laboratorium genomika yang dinilai terbaik di kawasan, serta pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk dalam jajaran 500 besar dunia.

Kemampuan riset BRIN juga diperkuat dengan berbagai fasilitas pengujian teknologi canggih. Fasilitas tersebut mencakup pengembangan dan pengujian teknologi pesawat terbang, kereta api, roket, hingga teknologi rekayasa maritim. Infrastruktur itu diharapkan dapat mempercepat proses penelitian sekaligus meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi secara mandiri.

Salah satu hasil nyata dari penguatan kapabilitas tersebut terlihat pada sektor energi. BRIN mengembangkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF) yang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas. Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi sekaligus menekan beban subsidi LPG yang selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan energi nasional.

Arif mengatakan, berdasarkan perhitungan awal, penerapan teknologi MOF berpotensi menghemat beban subsidi LPG hingga sekitar Rp26 triliun atau setara dengan sekitar US$1,4 miliar setiap tahun. Potensi tersebut menunjukkan bahwa hasil riset dan inovasi nasional tidak hanya memiliki nilai akademis, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi negara dan masyarakat.

Di sektor antariksa, BRIN juga terus meningkatkan kemampuan nasional melalui sejumlah proyek strategis, salah satunya satelit BRIN NEO-1 yang dijadwalkan meluncur pada awal 2027. Satelit tersebut diharapkan mampu mendukung kemandirian Indonesia dalam menghasilkan data citra satelit untuk berbagai kebutuhan, termasuk pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, serta pengawasan wilayah maritim.

Menurut Arif, pembangunan kapabilitas teknologi juga harus diarahkan untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan. Salah satunya adalah pengembangan sumber daya manusia dan teknologi di bidang nuklir. BRIN dinilai perlu membangun kemampuan tersebut sejak dini agar ketika Indonesia memutuskan mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir, negara tidak harus memulai dari nol atau hanya bergantung pada pembelian teknologi dari negara lain.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu kunci utama kemajuan suatu bangsa. Menurutnya, kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Karena itu, pembangunan pendidikan menjadi bagian yang sangat penting dalam menciptakan tenaga kerja unggul yang mampu mendukung kemajuan nasional.

Prabowo menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi paling penting dan mendasar dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sinergi antara pendidikan, riset, inovasi, dan pembangunan industri menjadi semakin penting untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan menguasai teknologi strategis secara mandiri demi memperkuat daya saing dan kedaulatan nasional.

×
Berita Terbaru Update