-->

Notification

×

Iklan

Profil

Profil

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Trump Tuntut Kompensasi dari Iran untuk Korban Konflik dan Serangan Puluhan Tahun

Monday, August 10, 2026 | August 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-11T02:54:40Z

 


Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka babak baru dalam negosiasi perdamaian dengan Iran. Trump menyatakan akan menuntut kompensasi dari Teheran atas korban jiwa dan luka-luka yang ditimbulkan dalam berbagai konflik selama puluhan tahun. Tuntutan tersebut disampaikan ketika proses perundingan antara Washington dan Teheran masih menghadapi kebuntuan.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa (11/8/2026), Trump mengatakan Iran sebelumnya telah meminta kompensasi atas kerusakan yang mereka alami selama konflik militer lima bulan terakhir. Menanggapi tuntutan tersebut, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat juga akan meminta kompensasi atas korban yang menurutnya disebabkan oleh Iran. "Saya juga menuntut kompensasi dari Iran, untuk semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai parah dengan bom pinggir jalan dan banyak konflik lainnya," tulis Trump.

Trump kemudian mengaitkan tuntutannya dengan sejumlah serangan yang menurut pemerintah Amerika Serikat memiliki hubungan dengan Iran. Salah satu peristiwa yang disebutnya adalah pemboman terhadap kapal perang USS Cole pada 2000. Serangan tersebut menewaskan 17 personel Angkatan Laut AS dan melukai puluhan lainnya ketika kapal tersebut berada di Pelabuhan Aden, Yaman.

Selain itu, Trump menuntut kompensasi bagi keluarga korban demonstrasi di Iran. Ia menyebut keluarga "ratusan ribu demonstran tak berdosa" yang menurutnya telah dibunuh Iran selama 50 tahun terakhir. Pernyataan tersebut memperluas cakupan tuntutan Washington, dari kerugian akibat konflik terbaru menjadi berbagai peristiwa politik dan kekerasan yang berlangsung selama beberapa dekade.

Trump mengatakan tuntutan tersebut telah diperintahkan untuk dimasukkan dalam seluruh negosiasi yang akan datang. "Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memasukkan ini dengan tegas ke dalam setiap, dan semua, negosiasi di masa mendatang," katanya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu kompensasi berpotensi menjadi salah satu persoalan utama dalam upaya mencapai kesepakatan antara kedua negara.

Sikap Trump tersebut muncul setelah sebelumnya ia kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Pekan lalu, Trump mengancam akan menyerang Iran "dengan sangat keras", termasuk kemungkinan menargetkan infrastruktur sipil. Namun, ancaman tersebut kemudian ditarik kembali dan Trump justru memberikan sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka serta kesepakatan perdamaian mungkin segera tercapai.

Sehari sebelum pernyataan mengenai kompensasi itu, Trump mengatakan dirinya mengambil pendekatan yang lebih tenang terhadap konflik Iran. Ia mengisyaratkan bahwa pemerintahannya bersedia meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran sebagai alternatif dari pelaksanaan serangan militer lanjutan. Strategi tersebut menunjukkan adanya upaya untuk mempertahankan tekanan terhadap Iran sembari menghindari eskalasi militer yang lebih luas.

Media digital Axios melaporkan bahwa dalam wawancara yang diterbitkan pada Minggu, Trump tidak menunjukkan kekecewaan terkait penundaan kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran. Selat strategis tersebut menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik karena merupakan jalur penting bagi perdagangan dan pengiriman energi dunia.

Di sisi lain, Teheran juga mengajukan sejumlah tuntutan kepada Washington. Iran meminta Amerika Serikat terlebih dahulu mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencabut sanksi terhadap industri minyaknya. Pemerintah Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan Amerika Serikat selama konflik berlangsung.

Kebuntuan dalam negosiasi tersebut berdampak jauh melampaui hubungan bilateral kedua negara. Blokade Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan harga bahan bakar melonjak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Dengan kedua pihak sama-sama mengajukan tuntutan kompensasi dan syarat politik, masa depan perundingan perdamaian masih sangat bergantung pada kemampuan Washington dan Teheran menemukan titik temu tanpa kembali terjerumus ke dalam eskalasi militer.

×
Berita Terbaru Update